Setelah sukses menggelar perhelatan di Semarang pada 1929, Nahdlatul Ulama (NU) terus memperkuat basis massanya di wilayah pesisir utara Jawa. Setahun berselang, tepatnya pada 8 hingga 11 September 1930 (15-18 Rabiul Akhir 1349 H), giliran Pekalongan yang didaulat menjadi tuan rumah Muktamar (Kongres) ke-5 NU. Pemilihan kota yang termasyhur sebagai penghasil kain batik ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari perhitungan strategis para kiai untuk merajut jaringan ulama di sepanjang jalur penghubung Jawa Tengah menuju Jawa Barat dan Batavia.
Menelusuri Dua Titik Sentral Perhelatan
Sebagaimana terekam dalam catatan Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) edisi tahun 1349 H, pusat kegiatan Muktamar kelima ini berpusat di dua lokasi utama, yakni Hotel Oranye dan Masjid Jami Pekalongan. Sidang-sidang komisi dan pembahasan internal dilangsungkan di Griya (Oranye Hotel) Kampung Kepatihan Straat sejak malam Selasa hingga Kamis. Puncaknya, pada malam Jumat tanggal 18 Rabiul Akhir, seluruh putusan diplenokan secara terbuka (Openbaar) di hadapan masyarakat luas yang memadati Masjid Jami Pekalongan.
Jejak fisik dari perhelatan akbar ini sebagian masih berdiri kokoh. Masjid Jami Pekalongan yang dibangun pada tahun 1852 M di daerah Kauman masih memancarkan aura sejarahnya di sebelah barat Alun-alun Kota Pekalongan. Namun, nasib berbeda dialami oleh Hotel Oranye Kepatihan. Bangunan yang menjadi saksi bisu perdebatan para ulama Nusantara ini kini telah berganti nama dan wujud, meski pelacakan peta kuno Pekalongan tahun 1918 menunjukkan bahwa lokasi Kampung Kepatihan sejatinya tak terpaut jauh dari area Masjid Jami.
Buah Konsolidasi Pengurus Cabang Perintis
Kepercayaan Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) menunjuk Pekalongan sebagai tuan rumah didasari oleh fondasi keorganisasian yang telah tertanam kuat. Dua tahun sebelum Muktamar, tepatnya pada 25 Agustus 1928, NU Cabang Pekalongan telah resmi didirikan di Kampung Pesindon, Kergon.
Prosesi pendirian cabang tersebut dikawal langsung oleh rombongan elite HBNO. Hadir dalam pengukuhan itu KH Abdul Wahab Chasbullah, tokoh muda NU KH Abdullah Ubaid, serta KH Bisri Syansuri yang saat itu masih menjabat sebagai pengurus cabang Jombang. Turut mendampingi pula KH Faqih Maskumambang dari Gresik bersama rekannya, KH Dlofier Muhammad Rofi’i.
Kepengurusan generasi pertama ini dinakhodai oleh Kiai Abbas Medelan selaku Rais Syuriyah dan Haji Ambari Ismail dari Pesindon selaku Ketua (Presiden) Tanfidziyah. Program kerja pertama yang mereka gulirkan sangat merakyat, yakni menggelar pendidikan keagamaan rutin setiap hari Senin dan Kamis di Masjid Jami Kauman. Gerakan akar rumput inilah yang kemudian membesarkan nama NU di Pekalongan dan memantapkan posisi kota tersebut sebagai titik tumpu strategis.
Gemuruh Dukungan Massa dan Kehadiran Ulama Tremas
Ketika Muktamar akhirnya digelar, antusiasme warga Pekalongan meledak luar biasa. Kegiatan pengajian umum di Masjid Jami dihadiri tak kurang dari 5.000 orang, sementara buku tamu panitia mencatat partisipasi 2.222 individu yang terlibat aktif dari awal hingga akhir acara.
Hajatan ini bertabur bintang keulamaan masa itu. Tokoh-tokoh lokal seperti Kiai Zuhdi, Kiai Munawwir, hingga Kiai Dimyati dan Kiai Amir membaur dengan delegasi dari berbagai kota. Datang dari Semarang ada rombongan Kiai Usman dan Kiai Hamim, wakil Solo Kiai Kholil, utusan Surabaya Kiai Ridwan, hingga rombongan Kiai Abbas yang mewakili wilayah Cirebon.
Satu momen krusial yang menggetarkan arena Muktamar adalah kehadiran KH Dimyati dari Pesantren Tremas. Kehadiran ulama kharismatik ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah pernyataan dukungan terbuka yang seketika menyuntikkan semangat moral luar biasa. Sikap Kiai Dimyati ini menjadi magnet kuat yang memantapkan langkah para kiai dan ribuan santri alumni Tremas di berbagai penjuru Nusantara untuk berkhidmat di bawah panji Nahdlatul Ulama.
Problematika Keumatan yang Dibedah Tuntas
Seperti lazimnya Muktamar NU, persidangan di Pekalongan sarat dengan perdebatan fikih untuk menjawab problematika keseharian masyarakat. Beberapa masalah pelik yang diputus dalam forum ini mencakup persoalan klasifikasi macam-macam kafir, hukum membeli emas menggunakan uang kertas, hingga problematika sosial seperti status anak yang lahir sesudah ibunya dijatuhi talak.
Tak luput pula, Muktamar menyoroti praktik-praktik budaya lokal yang bersinggungan dengan syariat, di antaranya hukum memakai sandal yang ditemukan secara kebetulan di masjid, ritual perayaan untuk jin penjaga desa (sedekah bumi), tradisi melempar kendi berisi air pada upacara tujuh bulanan (tingkeban), hingga dalil berdiri saat memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Seluruh diskursus ini membuktikan bahwa sejak usia dini, NU selalu hadir merawat tradisi sekaligus menuntun umat agar tak melenceng dari rel ajaran Islam.