Resolusi Akhir dan Syukur Menjelang Perhelatan Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama di Lampung

Kondisi pandemi global Covid-19 yang melanda dunia turut memberikan ujian tersendiri bagi jalannya roda organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Menjelang penghujung tahun 2021, dinamika kebijakan negara terkait pembatasan kegiatan masyarakat sempat memicu diskursus panjang dan tarik-ulur mengenai jadwal pelaksanaan Muktamar ke-34 di Provinsi Lampung. Namun, tradisi kiai yang selalu mengedepankan tabayun dan musyawarah pada akhirnya berhasil memecah kebuntuan tersebut menjadi sebuah permufakatan yang melegakan seluruh warga nahdliyin.

Penarikan Kebijakan Pandemi dan Keputusan Final Jamiyah

Kepastian langkah NU akhirnya diketok palu secara resmi pada Selasa, 7 Desember 2021. Bertempat di lantai 8 Gedung PBNU Jakarta, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tampil ke hadapan publik untuk membacakan keputusan final yang sangat dinantikan. Keputusan tersebut menetapkan bahwa penyelenggaraan Muktamar ke-34 akan kembali berpedoman penuh pada hasil Konferensi Besar (Konbes) NU yang sebelumnya telah disepakati pada 26 September 2021.

Ketetapan monumental ini tidak diambil secara sepihak, melainkan ditandatangani oleh empat pilar pimpinan tertinggi jamiyah, yakni Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Sekretaris Jenderal H Ahmad Helmy Faishal Zaini. Langkah ini diambil seiring dengan kebijakan pemerintah yang menarik pemberlakuan PPKM level 3 terkait pencegahan dan penanggulangan Covid-19 pada masa libur Nataru (Natal 2021 dan Tahun Baru 2022).

Dengan dicabutnya pembatasan tersebut, PBNU secara mantap mengumumkan bahwa Muktamar di bumi Ruwa Jurai, Lampung, akan diselenggarakan pada tanggal 18 hingga 20 Jumadil Ula 1443 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 23 sampai 25 Desember 2021 Masehi.

Ijtihad Ulama dan Pertemuan Berbagai Pemikiran

Suasana haru dan rasa syukur yang mendalam menyelimuti pengumuman tersebut. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan pandangannya bahwa dinamika yang terjadi sebelumnya adalah bentuk ijtihad dari masing-masing pihak. Perbedaan pandangan mengenai apakah jadwal harus dimajukan atau dimundurkan merupakan dinamika wajar yang didasari oleh niat baik untuk menyelamatkan jamiyah dari ancaman pandemi.

Kiai Miftachul Akhyar menegaskan bahwa pada akhirnya seluruh ijtihad tersebut bertemu pada satu titik kemaslahatan bersama demi kebesaran Nahdlatul Ulama. Beliau meyakini bahwa kesatuan sikap ini akan membuat para pendiri (muassis) NU di alam sana turut bergembira melihat para pengurus saat ini berhasil mengemban amanat dengan penuh kedewasaan. Melalui ikhbar atau pengumuman resmi tersebut, wacana ketidakpastian jadwal Muktamar yang sempat mengemuka dinyatakan telah selesai dan ditutup lembarannya.

Mempertegas Posisi Sebagai Pilar Kesatuan Bangsa

Menyambung rasa syukur tersebut, Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini menegaskan kembali komitmen kebangsaan NU. Ia mengingatkan bahwa hingga saat ini, NU terus berdiri tegak sebagai pilar pemersatu bangsa, penyangga utama keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta pengayom yang melindungi segenap umat dan bangsa.

Kesepakatan jadwal Muktamar ini menjadi bukti nyata komitmen NU untuk selalu menjadi garda terdepan dalam memberikan contoh terbaik bagi masyarakat. Jamiyah ini terus merawat dan membangun empat pilar persaudaraan, yakni ukhuwah islamiah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), dan yang paling fundamental sebagai fondasi internal adalah ukhuwah nahdliyah (persaudaraan sesama warga NU).

Lantunan Shalawat dan Kekuatan Konsolidasi Nasional

Pertemuan di Gedung PBNU hari itu tidak sekadar menjadi ajang penyampaian keputusan administratif. Aroma spiritualitas begitu kental terasa. Sebelum keputusan final tersebut dibacakan, Rais Syuriyah PBNU KH Manarul Hidayat bersama KH Ahmad Kafabihi Mahrus memimpin lantunan berbagai shalawat dan pujian-pujian yang segera diikuti dengan khusyuk oleh seluruh hadirin.

Kehadiran para tokoh dalam pertemuan tersebut menunjukkan betapa solidnya konsolidasi nasional NU menjelang Muktamar. Ruangan tersebut dipenuhi oleh para ketua dan rais syuriyah Pengurus Wilayah NU (PWNU) dari seluruh penjuru Indonesia, pengurus harian tanfidziyah dan syuriyah PBNU, pimpinan lembaga dan badan otonom tingkat pusat, hingga Panitia *Organizing Committee* (OC) dan *Steering Committee* (SC) Muktamar ke-34. Pertemuan paripurna ini seolah mengirimkan pesan yang sangat jelas: Nahdlatul Ulama telah siap menyongsong masa depannya dengan barisan yang utuh dan hati yang bertaut.

Catatan Redaksi:Artikel ini disadur dan dikembangkan dari tulisan Aru Lego Triono dalam buku Fragmen-fragmen Muktamar NU dari Era Kolonial hingga Milenial (Editor: Achmad Mukafi Niam). Penyesuaian bahasa dan narasi dilakukan oleh Redaksi tanpa mereduksi esensi fakta sejarah di dalamnya.