Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Jombang pada 1 hingga 5 Agustus 2015 bukan sekadar arena persidangan yang kaku. Bagi nahdliyin, perhelatan ini adalah panggung raksasa tempat bertemunya dinamika politik, kedisiplinan organisasi, hingga serpihan kelucuan kultural yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang bernaung di bawah panji pesantren. Memasuki babak modern, Muktamar Jombang menyajikan potret nyata bagaimana tradisi dan modernitas berbaur dalam sebuah kegembiraan yang komprehensif.
Tragedi Registrasi dan Kepatuhan pada Aturan
Kegembiraan itu sering kali lahir dari kejadian-kejadian tak terduga, seperti pengalaman unik yang menimpa Prof. KH Nadirsyah Hosen. Sang guru besar hukum Universitas Monash, Melbourne, yang juga menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Australia dan Selandia Baru ini, harus merelakan hak suaranya hilang. Setelah mengantre berjam-jam bersama para kiai dan pengurus lainnya, tokoh yang akrab disapa Gus Nadir ini gagal mendapatkan kartu peserta penuh.
Dalam antrean tersebut, kedisiplinan tingkat tinggi ditunjukkan oleh anggota Banser. Ketika ada yang memprotes dengan seruan, “Saya ini Gus!”, sang Banser yang kelelahan namun teguh pada tata tertib dengan santai menjawab, “O, sampeyan salah tempat. Di sini banyak Gus dan Kiai. Bukan cuma sampeyan. Sepurone sing kathah (mohon maaf yang banyak).” Kedisiplinan tanpa pandang bulu ini menjadi warna tersendiri di arena registrasi.
Kelucuan lain menyusul saat petugas registrasi mengecek pangkalan data (database). Ketika Gus Nadir menyebutkan dari PCI NU Australia, sang petugas dengan tegas menyatakan bahwa cabang tersebut tidak ada dalam data. Gus Nadir yang tidak mau menyerah lantas meminta petugas mengecek cabang New Zealand. Jawabannya pun tetap nihil, dengan sang petugas bersikukuh bahwa yang tercatat hanyalah “NU Cabang Selandia Baru”. Gus Nadir pun harus menjelaskan dengan sabar bahwa “Selandia Baru” adalah terjemahan dari “New Zealand”. Sang petugas yang sangat nahdliyin itu akhirnya memahaminya, meskipun pada akhirnya Gus Nadir hanya mendapatkan kartu berlabel “Peninjau”, bukan “Peserta”.
Romantisme Pinggiran Arena dan Kelapangan Hati Para Tokoh
Kehilangan hak suara di dalam arena utama tidak lantas menyurutkan langkah. Ruang kultural di luar persidangan justru menawarkan oase keilmuan yang lebih kaya. Dari ziarah makam, sowan kiai, hingga forum diskusi, kegembiraan terus menjalar. Salah satunya terekam dalam Seminar Nasional dan Diskusi Tasawuf di Institut Agama Islam Bani Fatah, Tambak Beras, yang mempertemukan banyak tokoh kultural, termasuk Pemimpin Redaksi Majalah Cahaya Sufi, KH Luqman Hakim.
Kelapangan hati juga dipertontonkan oleh Gus Nuril Arifin, mantan Panglima Pasukan Berani Mati di era Presiden KH Abdurrahman Wahid. Meski mengantongi dua undangan VVIP pada malam pembukaan yang dihadiri Presiden Joko Widodo, Gus Nuril melenggang tenang meninggalkan area depan panggung utama karena tidak kebagian kursi. Keesokan harinya, tanpa sedikit pun raut kekecewaan, ia terlihat bersantai sambil merokok di kawasan Masjid Pondok Pesantren Tebuireng. Saat berjalan kaki menuju lokasi Pidato Kebudayaan oleh KH Husein Muhammad di Masjid Ulul Albab, Gus Nuril bahkan sempat berseloroh santai menanggapi situasi tersebut, membuktikan ketenangan seorang sufi di tengah hiruk-pikuk pemberitaan yang sedang memanas.
Sementara itu, kaum muda NU juga merayakan kegembiraannya sendiri. Mereka menyelenggarakan Musyawarah Besar Kaum Muda NU di Tambak Beras pada 2-3 Agustus 2015, sembari terus mengawal ketat dinamika sidang pleno mengenai tata tertib yang dikawal para kiai di arena utama muktamar.
Malam Sastra dan Kisah Karomah Ulama di Kwaron
Pada malam Minggu, 2 Agustus 2015, sebuah pertemuan intim yang sarat akan nilai spiritualitas dan sastra berlangsung hangat di kediaman Gus Reza, kawasan Kwaron, Tebuireng. Ditemani kopi dan tembakau, KH Luqman Hakim membagikan kisah-kisah menakjubkan tentang para ulama Nusantara. Ia menceritakan bagaimana KH Wahid Hasyim di masa mudanya diam-diam bersekolah di Surabaya selama tiga hari dalam sepekan, lalu menghabiskan empat hari sisanya untuk belajar kepada Kiai Ihsan Jampes di Kediri.
Kisah merambah pada karomah Mbah Hayat Nganjuk, seorang ulama jadzab yang sangat dihormati oleh KH As’ad Syamsul Arifin. Gus Dur diceritakan pernah berziarah ke makam Mbah Hayat, dan selama dua jam penuh, Gus Dur tertawa terbahak-bahak seolah sedang bercengkerama dengan sang wali, yang lucunya, membuat seluruh pengantarnya ikut tertawa tanpa henti. Cerita hikmah lainnya menyinggung Mbah Ahmad Rifa’i sang pendiri Jam’iyah Rifa’iyah, hingga Mbah Jalil yang menyembunyikan kitab hakikat di atap rumah agar tidak dibaca sembarang orang.
Di majelis yang sama, hadir pula sastrawan legendaris penulis “Ronggeng Dukuh Paruk”, Ahmad Tohari. Sastrawan berusia 67 tahun itu menitipkan pesan penting bahwa NU harus terus melahirkan penulis-penulis besar. Ia menyebut bahwa setelah era Gus Dur dan eranya sendiri berlalu, tradisi literasi nahdliyin harus diteruskan oleh nama-nama penerus seperti Binhad Nurrohmat, Faisal Kamandobat, dan penulis-penulis muda lainnya.
Banser Baja dan Kelakar Politik Tingkat Tinggi
Selain sastra, kekuatan akar rumput NU turut dibahas melalui kehadiran Kiai Zubaidah, atau Cak Idah, pengasuh Padepokan Sawung Nalar, Malang, yang aktif merehabilitasi korban narkoba. Sosok rocker yang juga seorang hafidz Al-Qur’an ini memuji mental baja anggota Banser. Menurutnya, Banser memiliki iman yang begitu kuat; hanya bermodalkan hizib dan wirid dari kiai, mereka berani berdiri di garda paling depan. Kesetiaan pada kiai inilah yang membedakan organisasi massa NU dengan yang lainnya.
Kemeriahan Muktamar juga diwarnai oleh kelakar politik para pejabat. Ketua Panitia Lokal, Gus Saifullah Yusuf (Gus Ipul), berhasil memecah ketegangan dengan banyolannya. Saking lucunya, Gubernur Jawa Timur Pakde Karwo dalam pidatonya sampai meminta maaf karena merasa tidak sanggup mengontrol Gus Ipul jika ia bertindak sebagai Ketua IGGI (Ikatan Gus-Gus Indonesia). Salah satu lelucon Gus Ipul yang kontekstual adalah ketika ia menyapa puluhan ribu jamaah Muktamar Jombang dengan sebutan “Hadirin dan Hadirat”; yang diterjemahkannya sebagai “Hadir IN (yang berada di dalam)” dan “Hadir OUT (yang berada di luar)”.
Tentu saja, di balik semua kelakar tersebut, Muktamar Jombang dipenuhi oleh dialektika keumatan yang berat. Mulai dari sistem Ahwa (Ahlul Halli Wal Aqdi), pengalihan registrasi menjadi manual akibat kegagalan pangkalan data, isu politik uang, upaya penyusupan partai politik, hingga ujian terhadap ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah. Semua itu berputar di sekitar tema besar: “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Nusantara dan Dunia”.
Pada akhirnya, meminjam ungkapan maestro biola Idris Sardi, seseorang wajib bersyukur bahkan kepada pembencinya, karena secara tidak sadar telah membuat sang pembenci gembira. Begitu pula dengan Muktamar ke-33 NU di Jombang. Di luar segala dinamika, kontroversi, dan ketegangan politik yang mewarnainya, perhelatan ini sejatinya adalah perayaan kegembiraan yang merangkul semua pihak; meminjam istilah sang penulis, kegembiraan bagi para muktamirin, muktamirat, muktamiris, hingga muktamarah.