Jalinan sejarah antara kaum habaib dan Nahdlatul Ulama (NU) telah terpintal kuat sejak era prakemerdekaan. Salah satu jejak historis yang paling berkesan terekam pada perhelatan Muktamar ketujuh NU di Bandung, yang berlangsung pada 12 hingga 16 Rabiul Tsani 1351 H, atau bertepatan dengan 15 sampai 19 Agustus 1932 M. Pada momentum krusial tersebut, seorang ulama besar karismatik asal Batavia, al-Alim al-Allamah Sayyid Ali Kwitang (yang lebih akrab disapa Habib Ali Kwitang), hadir dan memberikan pidato bersejarah.
Simpul Memori dari Keturunan Sang Ulama
Ingatan akan kiprah Habib Ali Kwitang di arena Muktamar NU kembali terkuak saat umat Islam, khususnya di wilayah Jakarta, dirundung duka pada awal 2018. Tepat pada Senin, 15 Januari 2018, sang cucu yang bernama Habib Abdurrahman bin Muhammad menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Haji Pondok Gede, Jakarta. Kepergian sang cucu seakan membuka kembali lembaran arsip lama tentang betapa lekatnya kakek beliau dengan para kiai pendiri jamiyah NU.
Gelombang Massa di Masjid Jami Kota Bandung
Muktamar Bandung 1932 mencatatkan skala penyelenggaraan yang masif untuk ukuran masa itu. Rangkaian persidangan ditutup dengan sebuah openbaar (rapat umum) yang mengambil tempat di Masjid Jami Kota Bandung. Antusiasme umat Islam Tatar Sunda sungguh tak terbendung. Tak kurang dari sepuluh ribu kaum muslimin yang berasal dari kota-kota di sekitar Jawa Barat tumpah ruah memadati area masjid.
Mereka berbaur dengan para peserta muktamar yang menempuh perjalanan jauh dari berbagai daerah di Indonesia, serta jajaran pengurus pusat Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO). Menurut catatan laporan kepanitiaan tahun itu, forum permusyawaratan ini dihadiri secara resmi oleh 197 ulama, 210 orang pengiring, serta tamu undangan lainnya yang mewakili 83 daerah di seluruh Nusantara.
Perdebatan Mendesak dan Orasi Penutup yang Terekam Jejaknya
Di ruang persidangan, para ulama dihadapkan pada setumpuk problematika keumatan yang telah diajukan jauh hari oleh berbagai cabang. Dengan ketelitian tinggi, mereka berhasil memecahkan persoalan nomor 1 hingga 12 secara berurutan. Menariknya, sidang kemudian mengambil langkah taktis dengan melompat langsung untuk membahas persoalan nomor 23, semata-mata karena tingkat urgensinya yang menuntut penyelesaian segera. Lebih dari sekadar perdebatan fikih, Muktamar ini juga melahirkan banyak rekomendasi strategis yang ditujukan baik bagi pemerintah kolonial maupun untuk internal pengurus cabang NU.
Puncak acara terjadi pada sesi penutupan. Merujuk pada laporan majalah Swara Nahdlatoel Oelama, sejumlah tokoh terkemuka didaulat untuk naik ke mimbar dan menyampaikan pidato perpisahan. Selain sang motor penggerak NU, KH Wahab Chasbullah, turut berpidato pula al-Alim al-Allamah Sayyid ‘Alawi al-Haddad dari Bogor, serta menak Sunda Tuan Raden Haji Wiranata Kusumah. Pada kesempatan emas itulah, Habib Ali Kwitang dari Batavia turut menyumbangkan suaranya di hadapan puluhan ribu hadirin.
Sayangnya, dokumentasi jurnalistik masa itu memiliki keterbatasan. Swara Nahdlatoel Oelama hanya mencatat momen naiknya para tokoh tersebut ke atas mimbar, namun sama sekali tidak mencantumkan transkrip atau isi pidato yang mereka sampaikan. Kendati isi pidato Habib Ali Kwitang tetap menjadi misteri yang terkubur bersama waktu, kehadirannya di mimbar Muktamar Bandung telah cukup menjadi prasasti abadi yang menegaskan eratnya persaudaraan antara kalangan habaib dan ulama pesantren.