Perjuangan Membabat Hutan dan Solidaritas Rakyat Jelang Muktamar Magelang 1939

Mempersiapkan sebuah perhelatan akbar pada zaman kolonial tentu membutuhkan ketangguhan fisik dan mental yang luar biasa. Berbeda dengan era modern di mana fasilitas, lokasi, dan akses transportasi telah tersedia dengan baik, panitia Muktamar ke-14 Nahdlatul Ulama (NU) di Magelang pada bulan Juli 1939 harus memulainya dari nol. Jejak perjuangan yang menguras keringat ini terekam dengan sangat hidup dalam catatan KH Saifuddin Zuhri melalui bukunya yang bertajuk Berangkat dari Pesantren.

Saat itu, KH Saifuddin Zuhri yang kelak menjadi Menteri Agama RI sekaligus ayah dari Lukman Hakim Saifuddin, tengah mengemban amanah sebagai Sekretaris Majelis Konsul NU Daerah Banyumas. Ia turut berjibaku di lapangan demi memastikan kesuksesan hajatan besar jamiyah tersebut.

Kerja Keras Tim Konsolidasi Menembus Pelosok Magelang

Menyusul selesainya Muktamar ke-13 di Menes, para penggerak NU langsung mengalihkan fokus ke Magelang. Konsul R.H Mukhtar mengambil inisiatif untuk turun langsung bekerja keras “membabat hutan” serta meratakan jalan akses menuju lokasi muktamar. Langkah berat ini tidak dilaluinya sendirian.

R.H Mukhtar didampingi oleh Sekretaris Majelis Konsul Kiai Ahmad Zuhdi, serta dibantu secara bahu-membahu oleh Ketua NU Cabang Purworejo KH Jamil dan Ketua Cabang Temanggung di Parakan, Mas Fandi. Mengingat Kota Magelang saat itu masih terasa asing bagi Konsul R.H Mukhtar, ia menghabiskan waktu berhari-hari untuk memetakan situasi dan kondisi wilayah beserta sekitarnya sebelum merumuskan strategi kerja panitia.

Strategi sosialisasi yang dipilih sangat merakyat dan membumi. Panitia melakukan pendekatan dari pintu ke pintu, ikut meramaikan shalat berjamaah dan shalat Jumat di berbagai tempat, serta secara rutin mengunjungi pondok-pondok pesantren dan forum-forum pengajian. Kerja keras ini perlahan namun pasti berhasil menggugah semangat para ulama dan santri di sekitar Magelang untuk bersiap menyambut Muktamar.

Empat Pintu Restu Ulama Besar Penjaga Magelang

Selain menyiapkan infrastruktur, panitia menyadari pentingnya dukungan kultural. Mereka bersilaturahmi untuk memohon restu dari para ulama besar yang bermukim di sekitar Magelang. Keberhasilan mendapatkan restu ini ibarat menemukan “empat pintu” atau empat arah mata angin yang mengamankan daerah Magelang secara spiritual.

Keempat pilar penjaga gawang tersebut adalah KH Dalhar dari Watucongol Muntilan, KH Raden Alwi dari Tonoboyo, KH Moh. Siraj dari Wates Magelang, dan KH Chudlori dari Tegalrejo. Dukungan dari para tokoh karismatik inilah yang menjadi kunci utama kelancaran mobilisasi warga nahdliyin setempat.

Lumbung Logistik Rakyat di Markas Panitia Pecinan

Persoalan krusial lainnya adalah pendanaan dan logistik. Sama seperti muktamar-muktamar sebelumnya, panitia tidak semata-mata mengandalkan uang dari para donatur besar. Beberapa hari menjelang pembukaan acara, gelombang solidaritas rakyat tak terbendung membanjiri kantor Hoofd Committee Congress (HCC) NU yang bermarkas di Hotel Semarang, kawasan Pecinan, Magelang.

Dalam catatan KH Saifuddin Zuhri, masyarakat berduyun-duyun datang secara beriring-iringan sambil memikul beras, sayur-mayur, hingga tumpukan kayu bakar. Tidak hanya itu, banyak di antara mereka yang menuntun beberapa ekor kambing serta membawa ayam hidup untuk disumbangkan ke dapur umum panitia. Pemandangan ini menjadi bukti betapa kuatnya rasa kepemilikan rakyat terhadap jamiyah.

Sumbangan dari rakyat kecil ini kemudian diumumkan secara terbuka pada saat pembukaan muktamar sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Berkat semangat pantang menyerah, restu para ulama, dan dukungan logistik yang melimpah dari masyarakat, Muktamar ke-14 NU di Magelang akhirnya dapat terselenggara dengan lancar selama seminggu penuh, dari tanggal 15 hingga 21 Juli 1939.

Catatan Redaksi:Artikel ini disadur dan dikembangkan dari tulisan Ajie Najmuddin dalam buku Fragmen-fragmen Muktamar NU dari Era Kolonial hingga Milenial (Editor: Achmad Mukafi Niam), yang diadaptasi dari buku "Berangkat dari Pesantren" karya KH Saifuddin Zuhri. Penyesuaian bahasa dan narasi dilakukan oleh Redaksi tanpa mereduksi esensi fakta sejarah di dalamnya.