Nyai Djuaesih dan Suara Pertama Perempuan di Mimbar Muktamar Nahdlatul Ulama

Jauh sebelum Muslimat NU resmi berdiri pada tahun 1946, benih-benih pergerakan kaum perempuan di tubuh jamiyah telah disemai di panggung berskala nasional. Muktamar ke-13 Nahdlatul Ulama yang digelar di Menes, Banten, pada tahun 1938 menjadi saksi bisu pecahnya sebuah tradisi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang perempuan melangkah dengan tegar naik ke mimbar resmi forum permusyawaratan tertinggi NU. Sosok pendobrak itu adalah Nyai Djuaesih, seorang mubalighah asal Tatar Sunda yang keberaniannya membuka jalan bagi kebangkitan kaum hawa di lingkungan NU, yang kemudian disusul oleh tampilnya Nyai Siti Syarah, tokoh perempuan asal Menes.

Akar Keilmuan dan Reputasi Sang Mubalighah

Lahir di Sukabumi pada Juni 1901, Djuaesih tumbuh tanpa sentuhan pendidikan formal Belanda. Kedalaman ilmu agamanya ditempa secara langsung oleh kedua orang tuanya, R.O. Abbas dan R. Omara S. Berbekal fondasi keagamaan yang kuat tersebut, ia dianugerahi bakat alamiah sebagai seorang penceramah yang karismatik. Namanya segera meroket dan dikenal luas di seantero Jawa Barat. Djuaesih kerap berkeliling memberikan ceramah agama khusus bagi kaum ibu hingga menjangkau pelosok Pandeglang, Tasikmalaya, Sukabumi, Ciamis, dan Bekasi.

Persinggungannya yang intens dengan roda organisasi Nahdlatul Ulama bermula setelah ia dipersunting oleh Danuatmadja alias H. Bustomi, seorang pengurus teras NU Jawa Barat. Keterlibatannya mendampingi sang suami dalam berbagai agenda organisasi memercikkan sebuah kesadaran kritis. Djuaesih menyadari bahwa NU membutuhkan sebuah wadah khusus untuk mengorganisasi kekuatan perempuannya agar dapat bahu-membahu terjun dalam medan dakwah.

Orasi Menggetarkan di Forum Menes

Gagasan progresif itu memuncak pada Muktamar Menes 1938. Djuaesih berpegang teguh pada prinsip bahwa kewajiban menyebarkan ajaran Islam bukanlah monopoli tanggung jawab kaum pria semata. Majalah Berita Nahdlatoel Oelama No. 6 Tahun ke-10 edisi 19 Januari 1941 merekam dengan apik momentum bersejarah tersebut. Hadir sebagai wakil (voorzitter/ketua) kelompok perempuan NU dari Bandung, Djuaesih menjabarkan secara panjang lebar esensi jamiyah NU sebagai perkumpulan yang bertujuan mendidik umat Islam secara menyeluruh.

Di hadapan para ulama dan peserta Muktamar, ia melontarkan argumen yang tajam dan bernas. Ia menegaskan bahwa kaum perempuan juga wajib mendapatkan pendidikan keagamaan yang setara dan selaras dengan tuntunan syariat, persis seperti hak yang diperoleh kaum laki-laki. Sebagaimana dikutip dari buku 50 Tahun Muslimat NU karya Mahbib Khoiron, Djuaesih dengan lantang menyerukan bahwa para wanita yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama mesti bangkit, karena pendidikan yang setara itulah yang kelak akan membawa keamanan dan kedamaian di dunia maupun di akhirat.

Perintis Organisasi Perempuan Tanpa Ambisi Jabatan

Orasi keberanian Djuaesih di Menes bukanlah retorika kosong; itu adalah cetak biru sebuah usulan konkret agar perempuan NU diizinkan menjadi anggota aktif dan memiliki wadah organisasi yang mandiri. Visi besar ini akhirnya berbuah manis dengan didirikannya Muslimat NU pada tahun 1946 berkat dorongan para kiai.

Menariknya, meskipun memegang peran sentral sebagai pendobrak dan perintis, Djuaesih tidak lantas memburu tampuk kekuasaan. Ia tidak menduduki jabatan struktural tertentu pada masa awal pembentukan kepengurusan Muslimat NU Jawa Barat. Ia lebih memilih berfokus pada akar rumput sebagai seorang mubalighah. Barulah pada periode kepengurusan tahun 1950-1952, sejarah menempatkan Nyai Djuaesih secara resmi sebagai Ketua Muslimat NU. Warisannya tetap abadi: membuktikan bahwa suara perempuan adalah pilar yang tak terpisahkan dalam fondasi kebesaran Nahdlatul Ulama.