Pada pertengahan dekade 1930-an, tepatnya pada 13 hingga 19 April 1935 Masehi (9-14 Muharram 1354 Hijriah), denyut nadi pergerakan Islam Nusantara berpusat di Kota Surakarta. Wilayah yang kala itu masih berstatus ibu kota Kerajaan Kasunanan di bawah kepemimpinan Paku Buwono X ini didaulat menjadi saksi bisu perhelatan agung Muktamar (Kongres) ke-10 Nahdlatul Ulama. Rekam jejak sejarah ini terdokumentasikan secara rinci dalam buku bersejarah Poeteosan Congres Nahdlatoel ‘Oelama’ ka 10 di Solo Soerakarta yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat (HBNO).
Pelaksanaan Muktamar tidak dipusatkan di satu titik. Berbagai forum persidangan diselenggarakan di kediaman Kanjeng Gusti Surya Sugiyantan Mangkunegaran yang berlokasi di Giyantan. Sementara itu, acara pengajian umum berskala masif (Openbaar) memanfaatkan kelapangan Masjid Agung Kasunanan dan Masjid Mangkunegaran.
Kolaborasi Panitia Lintas Daerah dan Lahirnya Pesantren As-Siradj
Kesuksesan perhelatan ini tidak lepas dari kekompakan panitia lokal. Untuk melayani gelombang tamu yang berdatangan, dibentuklah komite yang menyatukan tiga cabang berdekatan yakni Solo, Boyolali, dan Klaten. Kepanitiaan ini dinakhodai oleh KH Masthur sebagai ketua, didampingi Kiai Habib dari Mangkunegaran sebagai wakil, serta Mas Ngabehi Mohd. Soleh yang merupakan Ketua Tanfidziyah NU Boyolali.
Pembagian tugas logistik diatur dengan apik. Perlengkapan seperti bantal dan guling dipasok bersama oleh ketiga cabang tersebut, sementara penyediaan tikar, karpet (babut), dan dampar digratiskan oleh cabang Solo. Meski panitia telah menyiapkan penginapan khusus, banyak kiai peserta yang memilih menginap di rumah sahabat atau pondok pesantren sekitar.
Di sinilah sebuah fragmen sejarah kecil tercipta. Tokoh pendiri NU, KH Bisri Syansuri dari Jombang, memilih bermalam di pesantren asuhan Kiai Ahmad Siradj di Panularan. Mengetahui bahwa pesantren tersebut belum memiliki nama resmi, Kiai Bisri secara spontan mengusulkan nama “Pesantren Nahdlatul Ulama 001”. Seiring berjalannya waktu, institusi pendidikan tersebut lebih abadi dikenang sebagai Pesantren As-Siradj, mengambil tabaruk dari nama sang pendiri.
Gebrakan Syiar Udara dan Dentuman Meriam Pembuka
Muktamar Solo menjadi tonggak kemajuan teknologi dalam syiar dakwah NU. Stigma bahwa ulama bersikap kaku terhadap kemajuan zaman terbantahkan secara telak ketika untuk pertama kalinya acara besar jamiyah ini disiarkan secara langsung melalui gelombang radio. Setiap sore hari pukul 17.00 hingga 18.00, pidato para peserta diperdengarkan melintasi batas geografis melalui corong radio Solossche Radio Vereniging (S.R.V) milik Mangkunegaran dan Siaran Radio Indonesia (S.R.I) milik Keraton Kasunanan. Studio S.R.V sendiri baru saja diresmikan di Kestalan oleh Kanjeng Gusti Mangkunegara VII.
Puncak keramaian terasa pada dua malam penyelenggaraan Openbaar. Setelah jamaah melaksanakan shalat hajat di Masjid Mangkunegaran pada malam Kamis dan Masjid Agung Kasunanan pada malam Jumat, acara pengajian umum pun dimulai. Pada malam pembukaan di Masjid Agung yang disiarkan langsung oleh S.R.I, KH Abdul Wahab Chasbullah naik ke atas mimbar. Bersamaan dengan pembukaan tersebut, tiga kali dentuman meriam menggelegar membelah malam, meresmikan jalannya Muktamar secara heroik.
Forum ini dihadiri tak kurang dari 516 delegasi resmi, yang terdiri dari 140 ulama, 176 perwakilan tanfidziyah, dan 200 pengiring. Nama-nama raksasa seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Abbas Cirebon, Kiai Asnawi Kudus, hingga Sayyid Muhammad Palembang tampak hadir mewarnai persidangan.
Solidaritas Finansial Menolak Tunduk Pada Kolonial
Sama seperti tradisi Muktamar di kota-kota sebelumnya, kemandirian finansial menjadi kebanggaan utama. Laporan akuntabilitas panitia mencatat bahwa dana operasional sebesar f 984.075 gulden berhasil dikumpulkan. Dana ini bersumber dari tabungan penduduk, derma anggota, serta sumbangan para donatur lokal tanpa ada campur tangan pemerintah kolonial.
Sikap antipati terhadap penjajah memang tertanam kuat dalam urat nadi para kiai. Sebagai contoh nyata, KH Masyhud, seorang ulama terkemuka di Solo, dengan tegas melarang keluarga dan para santrinya untuk bekerja sebagai ambtenaar atau pegawai pemerintahan Hindia Belanda.
Evaluasi Kinerja Cabang dan Pengesahan Barisan Pemuda
Di dalam ruang sidang, perkembangan jamiyah di tingkat akar rumput dibedah. Perwakilan Solo, Kiai Masruri, melaporkan bahwa meski menjadi tuan rumah, gerakan NU di kota itu masih dalam tahap merintis, baru memiliki satu Madrasah Ibtidaiyah dan tiga kring. Sebaliknya, laporan Kiai Abdul Mannan dari Klaten dan Haji Utsman dari Boyolali memaparkan kemajuan yang jauh lebih pesat, lengkap dengan puluhan madrasah, ribuan anggota, dan rutinitas pengajian yang tertata.
Salah satu keputusan paling bersejarah yang ditelurkan dalam Muktamar ini adalah pengesahan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) untuk sayap pemuda jamiyah, yakni Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) yang telah terbentuk setahun sebelumnya. Muktamar membentuk komite khusus yang dikawal oleh tokoh-tokoh teras seperti KH Tohir, KH Mahfud Siddik, Kiai Abdullah Obeid, Kiai Adnan, dan KH Abdul Wahab Chasbullah untuk mengawal laju organisasi kepemudaan tersebut.
Membentengi Eksistensi Lewat Madrasah Mambaul Ulum
Muktamar Kesepuluh juga menghasilkan resolusi politik-keagamaan yang tajam. Menyikapi regulasi pemerintah kolonial terkait pengangkatan pejabat urusan agama, Muktamar mengeluarkan maklumat dukungan penuh untuk mempertahankan Madrasah Mambaul Ulum yang didirikan Keraton Kasunanan.
Langkah ini dinilai amat krusial. Mambaul Ulum bukan sekadar tempat mengaji, melainkan kawah candradimuka bagi calon tenaga penghulu landraad dan lembaga peradilan agama. Institusi ini dipertahankan sebagai alat perjuangan ideologi, sarana untuk menangkis diskriminasi Belanda, sekaligus benteng pertahanan paling akhir bagi eksistensi umat Islam di Hindia Belanda.
Setelah hampir sepekan larut dalam perdebatan hukum dan siasat organisasi, Muktamar ke-10 resmi ditutup. Bertempat di Masjid Agung Surakarta, kemeriahan tersebut diakhiri dengan pengajian akbar yang dipimpin oleh ulama sepuh asal Gresik, KH Fakih Maskumambang.