Menyelami sejarah Muktamar ke-10 Nahdlatul Ulama (NU) di Surakarta pada April 1935 bukan sekadar melihat kemeriahan acaranya, melainkan juga menelusuri ketokohan para ulama yang berada di balik layar. Perhelatan ini mencerminkan betapa masifnya pergerakan NU di usianya yang belum genap sepuluh tahun. Saat itu, jamiyah telah mencatatkan 68.000 anggota resmi yang tersebar di 68 cabang seluruh Indonesia.
Kekuatan kepemimpinan NU tampil begitu solid dalam mengendalikan persidangan. Sidang Tanfidziyah dipimpin langsung oleh tokoh muda yang brilian, KH Mahfud Shiddiq. Sementara itu, panggung Syuriyah dikawal oleh tiga ulama terkemuka sekaligus, yakni KH Wahab Chasbullah, KH R. Mohammad Adnan, dan KH Bisri. Kehadiran deretan ulama masyhur seperti H. Masyhud, KH Dimyati, Kiai Abu Amar, KHR Asnawi, Mohammad Sutisna Senjaya, hingga KH Fakih semakin mengukuhkan wibawa forum tersebut.
Suara Lantang dari Perwakilan Cabang Klaten
Di antara jajaran kiai sepuh tingkat nasional, tampil sosok-sosok penggerak lokal yang tak kalah heroik. Salah satunya adalah Kiai Abdul Mannan yang tampil memukau sebagai juru bicara mewakili NU Cabang Klaten. Meski wilayah eks-Karesidenan Surakarta saat itu masih berjuang merintis basis NU, Kiai Abdul Mannan dengan bangga melaporkan progres yang signifikan dari daerahnya.
Di hadapan forum, ia memaparkan bahwa NU Klaten telah berhasil menghimpun 300 anggota, membentuk tiga kring, serta mendirikan sebuah madrasah dengan 100 orang murid. Roda dakwah berputar kencang lewat kehadiran 20 mubalighin dan 10 mubalighat. Kiai Abdul Mannan juga merinci jadwal pengajian yang padat, yakni jadwal bagi golongan nasihin setiap malam Selasa dan pengajian nasihat khusus kaum perempuan pada hari Jumat siang. Hebatnya lagi, i’anah syahriah (iuran bulanan) warga Klaten tidak hanya mencukupi kebutuhan internal, tetapi juga mampu disetorkan ke kas pusat (HBNO).
Darah Pejuang Singa Waspada Mengalir di Nadi Sang Kiai
Kelugasan Kiai Abdul Mannan dalam menggerakkan organisasi rupanya mengakar dari silsilah darah pejuang yang mengalir di nadinya. Ia dan sang kakak, Kiai Abu Ammar (yang kelak menjadi pengasuh Pesantren Jamsaren Solo), adalah putra dari Kiai Abdul Ghoni. Garis keturunannya terus menyambung hingga ke Kiai Muqoyyad, seorang panglima perang legendaris pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) yang masyhur dengan gelar Singa Waspada. Sang kakek buyut, yang berjuang menggunakan senjata bernama Kiai Royyan bersama Kiai Imam Rozi, gugur secara syahid dan dimakamkan di Juwiring.
Dalam hal keilmuan, rekam jejak pendidikan Kiai Abdul Mannan amatlah mumpuni. Selain digembleng langsung oleh sang ayah, ia menimba ilmu di Pesantren Tempursari Klaten di bawah asuhan Kiai Zaid, lalu melanjutkan ke Pesantren Jamsaren Solo asuhan Kiai Idris. Di Jamsaren, sembari mengaji, ia diberi tanggung jawab menjaga perpustakaan Madrasah Mambaul Ulum. Tak berhenti di situ, ia juga melengkapi keilmuannya dengan nyantri ke Tebuireng di bawah bimbingan langsung Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, serta ke Pesantren Kadirejo Karanganom kepada Kiai Ahmad.
Dedikasi Tanpa Batas Demi Jamiyah dan Republik
Pasca-Muktamar Solo, militansi Kiai Abdul Mannan tidak pernah surut. Ia kembali memimpin NU Klaten sebagai jajaran Syuriyah dengan didampingi Atmosoedarso di posisi Tanfidziyah pada Muktamar 1940 di Surabaya. Pengorbanannya untuk NU tercatat dalam memori keluarga; sebuah kisah heroik menuturkan bagaimana sang kiai rela menempuh perjalanan dari Klaten menuju arena Muktamar di Malang murni hanya dengan mengayuh sepeda (ngonthel).
Ketika badai revolusi fisik pecah, sang kiai membuktikan bahwa darah pejuang Singa Waspada belum padam. Ia aktif membantu barisan laskar Hizbullah, Sabilillah, dan Barisan Kiai di wilayah Klaten. Kediamannya yang sederhana di Pengkol disulap menjadi markas perlindungan yang aman bagi para pejuang kemerdekaan. Perjuangan hidupnya yang gigih, baik sebagai pendakwah, organisatoris NU, maupun abdi negara di KUA, purna ketika ia wafat pada tahun 1972 dalam usia 83 tahun.
Mewariskan Semangat di Panggung Sejarah
Keterlibatan Kiai Abdul Mannan dan nama-nama besar lainnya membuktikan bahwa Muktamar Solo 1935 adalah titik lebur berbagai generasi dan latar belakang pejuang. Menariknya, pesona Kota Bengawan sebagai panggung sejarah NU tidak berhenti sampai di sini. Dua dekade kemudian, kota ini kembali didaulat menjadi tuan rumah Muktamar ke-23 pada tahun 1962, sebuah perhelatan di mana wacana untuk mengembalikan NU pada khittah sebagai jamiyah diniyah pertama kali disemai, sebelum akhirnya mekar di Situbondo pada 1984.