Gelombang kebangkitan Nahdlatul Ulama (NU) bergema kuat pada penyelenggaraan Muktamar kedua di tahun 1927. Bertempat di Hotel Muslimin Peneleh, Surabaya, perhelatan ini mencatat sejarah kemeriahan yang luar biasa. Sebanyak 18 ribu jamaah, termasuk 150 kiai dari seluruh penjuru tanah Jawa, tumpah ruah memadati lokasi. Bahkan, beberapa perwakilan ulama Sunni dari luar negeri turut hadir menyaksikan kibaran bendera NU yang baru saja diciptakan, menambah syahdu suasana dan menggetarkan jiwa para muktamirin yang mendambakan kedamaian serta kemerdekaan.
Hebatnya, hajatan raksasa ini tidak membebani kas pihak manapun. Para kiai dan peserta yang hadir merogoh kocek pribadi, menanggung biaya perjalanan sendiri, bahkan menginfakkan sebagian hartanya untuk menyokong organisasi yang baru seumur jagung tersebut.
Aliansi Kultural dengan Tokoh Pergerakan Nasional
Daya pikat Muktamar 1927 rupanya melampaui batas-batas tembok pesantren. Forum ini sukses menyedot perhatian para aktivis pergerakan kebangkitan nasional dan kaum intelektual sekuler pada masa itu. Di antara tamu kehormatan yang hadir tampak Dr. R. Soetomo, sang pendiri sekaligus ketua organisasi Budi Utomo, beserta Dr. RM Haryo Suyono.
Kehadiran Soetomo bukanlah basa-basi politik. Secara personal, ia telah lama membina persahabatan dengan KH Wahab Chasbullah maupun KH Hasyim Asy’ari sejak fase awal pergerakan. Berbeda dengan kaum terpelajar didikan Belanda lainnya yang cenderung berkiblat ke Barat (nirlando centrisme), Soetomo memiliki akar pendidikan ketimuran dan nilai keislaman yang kuat. Kedekatan ini terbukti ketika Soetomo dengan gigih membela tradisi pesantren dari serangan S. Takdir Alisjahbana dalam Polemik Kebudayaan.
Bagi Soetomo, lembaga pendidikan pesantren yang dinaungi NU memiliki keunggulan mutlak: pembentukan moral dan karakter kebangsaan. Ia menyadari bahwa sekolah-sekolah kolonial Belanda hanya memberikan “pengajaran” akademis semata, namun abai terhadap “pendidikan” budi pekerti pribumi. Oleh karena itu, gerakan pelestarian pendidikan tradisional yang diusung NU wajib didukung sebagai tandingan atas hegemoni pendidikan Barat.
Pengawasan Kolonial dan Bantahan Manuver Sejarah
Muktamar ini juga dihadiri oleh perwakilan dari 45 organisasi pergerakan lainnya, serta sejumlah pejabat lokal seperti tiga orang penghulu landraad, seorang anjun penghulu, empat orang naib, dan empat orang wakil pemerintah. Namun, sosok yang paling mencolok di antara para tamu undangan adalah Charles Olke van der Plas.
Sebagai kader didikan orientalis Snouck Hurgronje, Van der Plas adalah tokoh legendaris kolonial yang piawai berbahasa Melayu, bahasa daerah, dan bahasa Arab. Kehadirannya di forum Muktamar sejatinya adalah instrumen pengawasan—memantau gerak-gerik NU demi kepentingan akademis dan intelijen politik Hindia Belanda. Fakta bahwa tokoh yang kelak menjadi Gubernur Jawa Timur ini dekat dengan para kiai kerap kali diplintir oleh pihak tak bertanggung jawab. Muncul tuduhan ahistoris yang menyebut Van der Plas sebagai motor pendiri NU untuk menghalangi kemerdekaan. Tudingan tersebut terbantahkan dengan sendirinya, mengingat NU lahir dari rahim perjuangan panjang para kiai Nusantara tanpa campur tangan kolonial.
Sinergi Tiga Pilar Penyangga Organisasi
Embrio kekuatan NU yang telah dirintis jauh sebelum pendirian resminya turut mendominasi arena Muktamar. Para eksponen dari tiga pilar utama—Nahdlatut Tujjar, Taswirul Afkar, dan Nahdlatul Wathan—mengambil peran vital. Kaum saudagar dari Nahdlatut Tujjar, seperti HA Kahar (Surabaya), HA Syukur (Kediri), dan H. Hasan Surati (Malang), tampil sebagai hartawan yang menanggung sebagian besar biaya perhelatan. Melalui pilar ini, muqarrarat (ketetapan) Muktamar banyak menelurkan rumusan hukum dagang kontemporer seperti aturan penebasan dan surat berharga.
Di sisi lain, kalangan pemikir dari Taswirul Afkar menyumbangkan gagasan segar terkait pengembangan pemikiran Islam, mulai dari penerjemahan khutbah Jumat hingga diskursus kesenian. Sementara itu, eksponen Nahdlatul Wathan fokus mengawal perumusan pengembangan pendidikan, khususnya merancang strategi agar pendidikan agama dapat menembus sekolah-sekolah Belanda.
Strategi Bahasa di Bawah Bayang Penjajah
Meskipun Muktamar hanya berlangsung singkat selama tiga hari tiga malam, pemanfaatan waktu yang intensif membuat forum ini kaya akan substansi sosial, keagamaan, dan ekonomi. Menariknya, isu politik praktis nyaris tidak disentuh secara eksplisit. Hal ini adalah bentuk kewaspadaan tinggi tingkat dewa dari para kiai, mengingat setiap organisasi pergerakan kala itu berada di bawah intaian ketat mata-mata kolonial.
Untuk mengelabui Belanda, NU menerapkan strategi kebahasaan yang cerdas. Pidato pembukaan (Khutbah Iftitah) yang disampaikan oleh Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari sengaja disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Arab. Begitu pula dengan rumusan keputusan Muktamar, seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab atau minimal menggunakan bahasa Jawa beraksara Arab (Pegon). Ini adalah tameng intelektual sekaligus strategi perlawanan yang elegan untuk melindungi muruah organisasi dari tekanan para penjajah yang terus mengintai.