“Bersepakat untuk tidak sepakat, berbeda tetapi tetap bersaudara.” Ungkapan ini mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan kebijaksanaan yang lahir dari pergulatan panjang seorang ulama besar dalam merawat persatuan umat. Prinsip tersebut bukan sekadar semboyan organisasi, melainkan cara berpikir yang diwariskan KH. Abdul Wahab Chasbullah—inspirator, pendiri, sekaligus penggerak Nahdlatul Ulama (NU).
Kiai Wahab memahami satu kenyataan yang tidak mungkin dihindari: selama manusia berpikir, selama ulama berijtihad, selama organisasi terus hidup, perbedaan akan selalu ada. Perbedaan bukan musuh. Yang menjadi musuh adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.
Karena itulah, ulama visioner ini melahirkan sebuah gagasan yang hingga hari ini menjadi napas Nahdlatul Ulama: bersepakat untuk tidak sepakat. Maksudnya bukan mengajarkan agar warga NU gemar berbeda, melainkan mendidik agar setiap perbedaan tetap berada dalam pagar adab. Kita boleh berbeda pandangan, berbeda pilihan, bahkan berbeda strategi. Tetapi setelah semuanya selesai, kita tetap duduk bersama, tetap saling menghormati, tetap memanggil “saudara”, bukan “lawan”. Itulah yang membuat NU mampu bertahan lebih dari satu abad.
Perjalanan hidupnya adalah kisah tentang pengorbanan yang nyaris tanpa jeda. Kiai Wahab berkeliling dari pesantren ke pesantren demi membangun jejaring ulama Nusantara. Sang Kiai aktivis ini kemudian mendirikan Tashwirul Afkar, sebuah ruang dialog yang mempertemukan gagasan para kiai dan kaum terpelajar. Tidak berhenti di situ, inisiatif sang organisatoris terus mengalir dengan menggerakkan Nahdlatul Wathan untuk membangkitkan kesadaran kebangsaan, serta merintis Nahdlatut Tujjar agar umat Islam memiliki kemandirian ekonomi. Puncak dari langkah strategisnya adalah menginisiasi Komite Hijaz, yang menjadi jalan lahirnya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.
Semua itu dilakukan dengan satu tujuan: menjaga agama, memuliakan ulama, dan melayani umat. Tidak ada catatan bahwa Kiai Wahab membangun NU untuk mencari jabatan atau menjadikan organisasi sebagai kendaraan politik pribadi. Bahkan sebaliknya, tokoh kelahiran Tambakberas, Jombang ini menghabiskan tenaga, pikiran, waktu, harta, bahkan seluruh hidupnya demi memastikan NU tetap berdiri kokoh sebagai rumah besar umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Ia lebih sibuk memikirkan masa depan umat daripada masa depan dirinya sendiri.
Inilah teladan yang hari ini perlu kita renungkan kembali. Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, pertanyaan besar sesungguhnya bukanlah siapa yang akan terpilih. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah kita masih mewarisi jiwa para muassis? Apakah kita masih mampu berbeda tanpa saling membenci? Apakah kita masih bisa berdebat tanpa kehilangan adab? Apakah kita masih menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi dan kelompok?
Sebab NU tidak pernah didirikan untuk menjadi tangga menuju kekuasaan. Organisasi ini bukan batu loncatan mengejar jabatan, pengaruh, ataupun keuntungan pribadi. Amanah di NU adalah pengabdian, bukan prestise. Jabatan hanyalah sarana untuk melayani, bukan tujuan untuk diburu. Ketika jabatan lebih dicintai daripada perjuangan, saat itulah ruh NU mulai memudar.
Karena itu, siapa pun yang kelak menerima amanah hasil muktamar hendaknya selalu mengingat pengorbanan para pendiri. Mereka membangun NU dengan air mata. Jangan sampai generasi hari ini justru merusaknya dengan ego.
Muktamar tahun ini memiliki makna yang jauh melampaui agenda organisasi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Nahdlatul Ulama, muktamar digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang—pesantren tempat sang inisiator dilahirkan, ditempa, dan memulai jejak perjuangannya.
Inilah peristiwa sejarah yang menggetarkan hati. Pada masa hidupnya, Muktamar Nahdlatul Ulama belum pernah diselenggarakan di Tambakberas. Baru satu abad kemudian, tanah kelahiran sang muassis menjadi tuan rumah forum tertinggi organisasi yang ia perjuangkan.
Bagi banyak warga Nahdliyin, peristiwa ini bukan sekadar keputusan administratif. Ada rasa batin yang sulit dijelaskan dengan logika organisasi semata. Banyak yang memaknainya sebagai karamah para pendiri, khususnya Kiai Wahab. Seolah-olah, sang pelopor ngersaaken atau berkehendak secara spiritual agar Nahdlatul Ulama kembali pulang ke rumahnya, agar para penerusnya kembali mengingat tempat lahirnya gagasan-gagasan besar yang membesarkan jam’iyah ini.
Benar atau tidaknya penafsiran itu, biarlah menjadi wilayah keyakinan masing-masing. Namun satu hal tidak dapat dibantah: Tambakberas akan menjadi tempat terbaik untuk mengingat kembali siapa sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah dan apa yang diwariskannya kepada NU.
Ketika ribuan kiai, jutaan Nahdliyin, dan para pengurus dari seluruh Indonesia berkumpul di Tambakberas pada 27–31 Agustus 2026, semoga yang pulang bukan hanya keputusan-keputusan organisasi. Semoga yang ikut pulang adalah semangat pengabdian para pendiri. Semoga yang hidup kembali adalah tradisi musyawarah yang santun, dan yang semakin kuat adalah persaudaraan.
Dan semoga setiap langkah kita menjadi jawaban atas pengorbanan Kiai Wahab: bahwa perjuangannya tidak berhenti pada berdirinya Nahdlatul Ulama, tetapi terus hidup melalui generasi yang menjaga adab, mengutamakan persatuan, serta merawat jam’iyah dengan keikhlasan.